Kamis, 04 Agustus 2011

Perkawinan

Sekarang, Cinta mulai menciptakan puisi dalam prosa kehidupan,
untuk mencipta fikiran-fikiran masa lalu menjadi nyanyian pujian agar bersenandung
siang hari dan menyanyi pada malam hari.

Sekarang, hasrat menyingkapkan tabir keraguan dari kebingungan pada
tahun-tahun yang telah berlalu.

Dari rangkaian kesenangan, ia merajut kebahagiaan yang hanya bisa dilampaui
dengan kebahagiaan jiwa ketika ia memeluk tuannya.
Itulah dua pribadi kukuh yang berdiri berdampingan untuk
mempertentangkan cinta mereka dengan kedengkian dari takdir yang lemah.

Itulah perpaduan anggur kuning dengan anggur warna lembayung untuk
menghasilkan paduan keemasan, warna cakrawala saat fajar merekah.
Itulah pertentangan dua roh untuk pertentangan dan kesatuan dua jiwa
dengan kesatuan.
Ia adalah curahan hujan jernih dari langit murni ke dalam
kesucian alam, membangkitkan kekuatan-kekuatan ladang yang penuh berkat.

Apabila pandangan pertama dari wajah sang kekasih adalah seperti benih
yang ditaburkan oleh cinta di ladang hati manusia dan ciuman pertama dari
dua bibir adalah seperti bunga pertama cabang kehidupan, maka perkawinan
adalah buah pertama dari bunga pertama benih itu.

(Dari Suara Sang Guru)
Khalil Gibran

http://www.wdema.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar